Bangunan NPM yang saya datangi, persis
sama seperti yang saya lihat di google sebelumnya. Maaf, bangunannya buat saya, apalagi suami, sangat tidak menarik. Rasanya sama saja pergi ke bangunan berciri oriental yang ada di negri sendiri, bedanya di sini tidak mengaplikasi warna-warna mencolok. Tapi sebagai turis yang
katrok, tetap saja kami bergaya dan berfoto di depannya, supaya suatu saat
nanti kalau ada yang tanya sudah ke NPM, kami bisa menjawab sudah. Itu saja.
Setelah puas berfoto, kami terus menapaki tangga demi tangga menuju bangunan
utama yang letaknya di atas bukit, sensasinya hampir sama dengan menaiki
anak tangga Borobudur, capek.
Masuk ke Lobby utama, mulailah saya
tercengang. Bertolak belakang dengan bentuk bangunannya yang sangat
tradisional, lobby ini jauh dari kesan museum kuno tak terjamah. Lobby
NPM benar-benar sebanding dengan lobby hotel bintang 5 plus plus. Besar,
bersih, megah, mewah, canggih & luar biasa. Pengunjungnya sangat
banyak dan berpakaian sangat high class (sambil melirik celana jeans dan
sepatu crocs butut saya). Lumayan kagum juga melihat banyaknya pengunjung, jika sambil
mengingat jumlah pengunjung museum di negri tercinta.
Sampai di sini, hati
suami saya rupanya belum tergerak. Dia lebih memilih menemani putri saya bermain di
kids centre, dan membiarkan saya masuk sendirian. Alasannya tiket mahal,
padahal saya tahu dia masih memandang rendah koleksi di dalam, sama seperti saya
yang beberapa kali kecewa dengan museum-museum sebelumnya yang pernah kami kunjungi,
khususnya di negri sendiri. "Paling juga liat apa sih", gitu katanya.
Setelah membeli tiket yang desainnya keren, saya masuk melalui pemeriksaan x ray yang cukup ketat layaknya masuk ke bandara, dan dilarang membawa kamera. Weh, semakin penasaran, sekali lagi teringat museum di negri sendiri yang nasibnya jarang ditengok, sekali ditengok itupun rombongan sekolah yang memaksa muridnya supaya tau peninggalan bersejarah, kalau tidak ikut nanti tidak dapat nilai bagus, karcisnya paling mahal 5 ribu, modelnya sobekan seperti karcis parkir.
Setelah membeli tiket yang desainnya keren, saya masuk melalui pemeriksaan x ray yang cukup ketat layaknya masuk ke bandara, dan dilarang membawa kamera. Weh, semakin penasaran, sekali lagi teringat museum di negri sendiri yang nasibnya jarang ditengok, sekali ditengok itupun rombongan sekolah yang memaksa muridnya supaya tau peninggalan bersejarah, kalau tidak ikut nanti tidak dapat nilai bagus, karcisnya paling mahal 5 ribu, modelnya sobekan seperti karcis parkir.
Masuk
pertama, saya langsung ke lantai dua tempat kategori keramik. Baru di
persinggahan pertama, saya sudah terpaku pada satu koleksi bejana keramik
berwarna hijau pucat yang sangat cantik. Melihat kondisinya yang mengkilap
terawat, dilindungi case kaca canggih dengan pelindung keamanan dan infra
red super, sepertinya tidak percaya kalau itu peninggalan Dynasty Song,
lupa di tahun berapa. Berpindah dari satu koleksi ke koleksi lain
semakin berdecak kagum. Seperti tidak percaya, saya menghadapi artefak-artefak kebudayaan tinggi China. Selain dibawa berdecak kagum dengan
koleksi itu sendiri, saya dibuat untuk merenung betapa kompleks
sebenarnya perancangan sebuah museum. . Bagaimana tidak, selain faktor keamanan terhadap segala sesuatu itu,
desain casing tetap diperhatikan secara detail. Miris teringat
peninggalan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Kutai, yang dipajang
'sekenanya' di museum negriku...
Di museum ini saya banyak dibawa masuk ke ruang-ruang
berkategori dengan suasana temaram (yang ternyata juga terang tidaknya
lampu mempengaruhi keamanan artefak dari segi keawetan, misalnya efek yang
nantinya akan membuat pudar warna). Suasana temaram ini tetap
membawa aura modern nan canggih, berbeda jika di museum kita temaram yang
justru membawa aura mistis.
Kecanggihan multimedia dimanfaatkan
maksimal. Keterangan artefak dengan layar sentuh, audio penterjemah
berbagai bahasa, ruang-ruang simulasi dengan animasi 3d yang top…. Sangat
menarik.
Di ruang keramik peninggalan Dynasty Qing, saya sempat dibuat
menangis. Saya menyaksikan guci-guci berbagai desain dengan pola penataan
monokrom, jadi misalnya peninggalan Dynasty Qing raja x, itu trendnya
warna merah polos, diatur meraaaahhh semua, trus beranjak ke yang warna
turquoise semua, putih semua, sampai ke yang bermotif-motif ramai khas China.
Di sini lah saya menangis, mengingat almarhumah ibu saya yang nota bene
penggemar guci China. Walaupun koleksi beliau tembakan semua, tapi
beliau sangat mencintainya. Saya sempat bergumam, Mom saya sekarang di tempat yang
seandainya mom ada di sini, tak
terbayang bagaimana tatapan binar matanya melihat guci-guci kualitas terbaik
di jamannya. Percaya tak percaya, saat itu saya mendadak seperti
pakar guci terhebat sepanjang masa, saya bisa merasakan guci yang di hadapan
saya ini benar-benar guci-guci karya seni terpilih raja-raja China saat itu, bukan
guci tembakan seperti di rumah saya :)
Di ruang pamer lainnya, tidak kalah
menakjubkan. Saya melihat berbagai koleksi lukisan dan kaligrafi,
kerajinan perunggu, buku dan dokumen. Bangsa China beberapa abad yang
lampau memang 'gila' !... Saya terbengong-bengong menyaksikan berbagai lukisan yang
panjangnya mungkin mencapai 10 m, mungkin itu bahannya dari kain sutra
atau kertas, entahlah. Yang menakjubkan, lukisan itu kondisinya seperti cetakan jaman sekarang. Di ruang kaligrafi, saya masuk
ke ruang audiovisual, di situ ada layar lebar, saya duduk seperti menonton layar
tancap. Dilayar muncul huruf-huruf China satu persatu. Saya tidak mengerti maksudnya, tapi mungkin semacam menerangkan huruf-huruf China tersebut bermetamorfosis dari huruf-huruf lainnya. Walaupun tidak paham, tapi
saya cukup lama duduk terbius memandangi perubahan-perubahan
huruf kaligrafi tersebut. Suasana yang di bentuk benar-benar sebagai ruang
belajar dan berkontempelasi, sangat cozy dan nyaman.
Di rumah sepulang dari Taiwan, saya menonton di National Geographic Chanel tentang NPM,
semakin kagum mengetahui sejarah panjang bangsa China menyelamatkan
koleksi-koleksi Istana Terlarang Beijing dari perang dan bombardir Jepang.
Jaman perang dunia kedua itu, China secara khusus mempekerjakan rakyatnya
untuk mengusung ribuan koleksi artefak-artefak dari satu kota ke kota lain,
sampai akhirnya oleh pemimpin nasionalis Chiang Kai Shek dibawa ke
Taiwan, disembunyikan di gua yg dianggap aman dan kemudian saat ini
disimpan di NPM dengan pengamanan yang sangat mengagumkan.
No comments:
Post a Comment