Friday, October 19, 2012

Terdampar Di Museum - Kembali Ke Masa Lalu

Taipei, Januari 2012
Dalam daftar perjalanan kali ini, awalnya National Palace Museum Taiwan (NPM) termasuk dalam kategori tempat yang kalau sempat akan saya kunjungi, kalau tidak sempat ya sudah lah... dan memang pagi itu sebenarnya tujuan utama saya adalah ke bagian ujung utara Taiwan, mengunjungi daerah keajaiban alam Yehliu Geopark. Namun c
uaca dingin 10 drajat dan hujan dari semalam, mengurungkan niat saya, mengingat letaknya yang di pinggir laut dengan hembusan anginnya yang kencang, pasti dingin sepuluh derajat itu akan semakin terasa menggigit di kulit tropis ini. Akhirnya pagi itu saya memutuskan mengunjungi NPM. 
Bangunan NPM yang saya datangi, persis sama seperti yang saya lihat di google sebelumnya. Maaf, bangunannya buat saya, apalagi suami, sangat tidak menarik. Rasanya sama saja pergi ke bangunan berciri oriental yang ada di negri sendiri, bedanya di sini tidak mengaplikasi warna-warna mencolok. Tapi sebagai turis yang katrok, tetap saja kami bergaya dan berfoto di depannya, supaya suatu saat nanti kalau ada yang tanya sudah ke NPM, kami bisa menjawab sudah. Itu saja. 

Setelah puas berfoto, kami terus menapaki tangga demi tangga menuju bangunan utama yang letaknya di atas bukit, sensasinya hampir sama dengan menaiki anak tangga Borobudur, capek. 


Masuk ke Lobby utama, mulailah saya tercengang. Bertolak belakang dengan bentuk bangunannya yang sangat tradisional, lobby ini jauh dari kesan museum kuno tak terjamah. Lobby NPM benar-benar sebanding dengan lobby hotel bintang 5 plus plus. Besar, bersih, megah, mewah, canggih & luar biasa. Pengunjungnya sangat banyak dan berpakaian sangat high class (sambil melirik celana jeans dan sepatu crocs butut saya). Lumayan kagum juga melihat banyaknya pengunjung, jika sambil mengingat jumlah pengunjung museum di negri tercinta.
Sampai di sini, hati suami saya rupanya belum tergerak. Dia lebih memilih menemani putri saya bermain di kids centre, dan membiarkan saya masuk sendirian. Alasannya tiket mahal, padahal saya tahu dia masih memandang rendah koleksi di dalam, sama seperti saya yang beberapa kali kecewa dengan museum-museum sebelumnya yang pernah kami kunjungi, khususnya di negri sendiri. "Paling juga liat apa sih", gitu katanya.
Setelah membeli tiket yang desainnya keren, saya masuk melalui pemeriksaan x ray yang cukup ketat layaknya masuk ke bandara, dan dilarang membawa kamera. Weh, semakin penasaran, sekali lagi teringat museum di negri sendiri yang nasibnya jarang ditengok, sekali ditengok itupun rombongan sekolah yang memaksa muridnya supaya tau peninggalan bersejarah, kalau tidak ikut nanti tidak dapat nilai bagus, karcisnya paling mahal 5 ribu, modelnya sobekan seperti karcis parkir. 
Masuk pertama, saya langsung ke lantai dua tempat kategori keramik. Baru di persinggahan pertama, saya sudah terpaku pada satu koleksi bejana keramik berwarna hijau pucat yang sangat cantik. Melihat kondisinya yang mengkilap terawat, dilindungi case kaca canggih dengan pelindung keamanan dan infra red super, sepertinya tidak percaya kalau itu peninggalan Dynasty Song, lupa di tahun berapa. Berpindah dari satu koleksi ke koleksi lain semakin berdecak kagum. Seperti tidak percaya, saya menghadapi artefak-artefak kebudayaan tinggi China. Selain dibawa berdecak kagum dengan koleksi itu sendiri, saya dibuat untuk merenung betapa kompleks sebenarnya perancangan sebuah museum. Di museum ini saya ditunjukkan bagaimana desain pengamanan terhadap artefak, baik terhadap tangan jahil pengunjung, pencurian, temperatur yang dapat merusak, bahkan keamanan terhadap gempa. Bagi saya semua penyelesaiannya tidak hanya canggih, tapi cerdas !. Bagaimana tidak, selain faktor keamanan terhadap segala sesuatu itu, desain casing tetap diperhatikan secara detail. Miris teringat peninggalan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Kutai, yang dipajang 'sekenanya' di museum negriku... 
Di museum ini saya banyak dibawa masuk ke ruang-ruang berkategori dengan suasana temaram (yang ternyata juga terang tidaknya lampu mempengaruhi keamanan artefak dari segi keawetan, misalnya efek yang nantinya akan membuat pudar warna). Suasana temaram ini tetap membawa aura modern nan canggih, berbeda jika di museum kita temaram yang justru membawa aura mistis. 
Kecanggihan multimedia dimanfaatkan maksimal. Keterangan artefak dengan layar sentuh, audio penterjemah berbagai bahasa, ruang-ruang simulasi dengan animasi 3d yang top…. Sangat menarik. 
Di ruang keramik peninggalan Dynasty Qing, saya sempat dibuat menangis. Saya menyaksikan guci-guci berbagai desain dengan pola penataan monokrom, jadi misalnya peninggalan Dynasty Qing raja x, itu trendnya warna merah polos, diatur meraaaahhh semua, trus beranjak ke yang warna turquoise semua, putih semua, sampai ke yang bermotif-motif ramai khas China. Di sini lah saya menangis, mengingat almarhumah ibu saya yang nota bene penggemar guci China. Walaupun koleksi beliau tembakan semua, tapi beliau sangat mencintainya. Saya sempat bergumam, Mom saya sekarang di tempat yang seandainya mom ada di sini, tak terbayang bagaimana tatapan binar matanya melihat guci-guci kualitas terbaik di jamannya. Percaya tak percaya, saat itu saya mendadak seperti pakar guci terhebat sepanjang masa, saya bisa merasakan guci yang di hadapan saya ini benar-benar guci-guci karya seni terpilih raja-raja China saat itu, bukan guci tembakan seperti di rumah saya :) 
Di ruang pamer lainnya, tidak kalah menakjubkan. Saya melihat berbagai koleksi lukisan dan kaligrafi, kerajinan perunggu, buku dan dokumen. Bangsa China beberapa abad yang lampau memang 'gila' !... Saya terbengong-bengong menyaksikan berbagai lukisan yang panjangnya mungkin mencapai 10 m, mungkin itu bahannya dari kain sutra atau kertas, entahlah. Yang menakjubkan, lukisan itu kondisinya seperti cetakan jaman sekarang. Di ruang kaligrafi, saya masuk ke ruang audiovisual, di situ ada layar lebar, saya duduk seperti menonton layar tancap. Dilayar muncul huruf-huruf China satu persatu. Saya tidak mengerti maksudnya, tapi mungkin semacam menerangkan huruf-huruf China tersebut bermetamorfosis dari huruf-huruf lainnya. Walaupun tidak paham, tapi saya cukup lama duduk terbius memandangi perubahan-perubahan huruf kaligrafi tersebut. Suasana yang di bentuk benar-benar sebagai ruang belajar dan berkontempelasi, sangat cozy dan nyaman.
Tidak terasa 3 jam sudah saya menghabiskan waktu di dalam, belum semua koleksi saya lihat. Ini rekor terlama saya berkunjung ke museum dan belajar serius tentang koleksinya. 
Di rumah sepulang dari Taiwan, saya menonton di National Geographic Chanel tentang NPM, semakin kagum mengetahui sejarah panjang bangsa China menyelamatkan koleksi-koleksi Istana Terlarang Beijing dari perang dan bombardir Jepang. Jaman perang dunia kedua itu, China secara khusus mempekerjakan rakyatnya untuk mengusung ribuan koleksi artefak-artefak dari satu kota ke kota lain, sampai akhirnya oleh pemimpin nasionalis Chiang Kai Shek dibawa ke Taiwan, disembunyikan di gua yg dianggap aman dan kemudian saat ini disimpan di NPM dengan pengamanan yang sangat mengagumkan.
 

No comments:

Post a Comment